
Bersama Lurah Caturharjo Pandak Bantul, mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat.
1. Kenapa ada strategi dakwah lewat peringatan Maulid Nabi?
- Fungsi Sosial-Dakwah: Maulid Nabi dijadikan sarana berkumpul umat Islam untuk memperkuat ukhuwah, mengingat kembali akhlak Nabi, dan menyampaikan pesan dakwah dengan cara yang mudah diterima masyarakat.
- Fungsi Budaya: Di banyak masyarakat muslim, acara Maulid dikemas dengan tradisi lokal (hadrah, shalawat, tahlilan, kenduri). Ini memudahkan dakwah Islam masuk tanpa benturan keras dengan budaya setempat.
- Fungsi Edukasi: Melalui ceramah, qasidah, atau pembacaan sirah nabawiyah, jamaah bisa mengenal kembali kehidupan Nabi.
Jadi, kegiatan Maulid diadakan lebih ke strategi dakwah kultural, bukan ritual.
2. Sejak kapan ada peringatan Maulid Nabi?
- Awal Muncul: Tradisi ini berkembang sekitar abad ke-12 M (abad ke-6 H). Catatan sejarah menunjukkan Dinasti Fathimiyah (Mesir) adalah yang pertama merayakan Maulid secara resmi, kemudian meluas di masa Dinasti Ayyubiyah dan Dinasti Utsmaniyah.
- Di Nusantara: Maulid masuk bersamaan dengan Islam abad ke-15–16 M. Para wali (Wali Songo) menggunakan tradisi Maulid sebagai strategi dakwah, dikaitkan dengan budaya Jawa (misalnya Sekaten di Yogyakarta & Surakarta).
3. Kenapa tidak diganti dengan belajar sejarah Nabi secara rutin?
- Idealnya, benar: belajar sirah Nabi setiap pekan atau setiap hari lebih sesuai dengan spirit Islam (sebagaimana perintah untuk meneladani Nabi sepanjang hidup).
- Realitanya, umat sering kurang konsisten. Maka Maulid menjadi momen tahunan yang mengingatkan kembali, seperti “reminder” kolektif.
- Dari sisi psikologi massa, perayaan (dengan nuansa syukur dan kebersamaan) lebih menarik banyak orang daripada hanya belajar rutin. Itu sebabnya peringatan ini tetap dipertahankan.
4. Posisi Ulama tentang Maulid
- Pro: Banyak ulama besar (seperti Imam As-Suyuthi, Ibnu Hajar al-Asqalani, Ibnu Katsir) menilai Maulid boleh bahkan baik jika isinya shalawat, doa, dan pengajaran tentang Nabi.
- Kontra: Ada juga ulama yang menilai bid‘ah karena tidak dilakukan Nabi atau sahabat.
- Praktik Tengah: Mayoritas di Indonesia memakai pendekatan bid‘ah hasanah – tidak dilakukan Nabi, tapi isinya baik untuk dakwah.
5. Solusi agar lebih kuat secara substansi
- Maulid tetap boleh diperingati, tetapi isinya jangan sebatas seremonial.
- Bisa diisi dengan:
- Belajar Kajian sirah Nabawiyah yang mendalam.
- Belajar Lomba menulis/membaca sejarah Nabi untuk anak-anak & remaja.
- Belajar Aksi sosial (bagi sembako, santunan yatim, donor darah) sebagai bukti meneladani Nabi.
- Belajar Pameran atau festival budaya Islam.
Dengan begitu, Maulid jadi pintu masuk menuju pembelajaran Nabi secara lebih kontinyu, bertahap dan berkelanjutan, bukan pengganti.
👉 Jadi singkatnya: Maulid Nabi lahir dari strategi dakwah kultural sejak abad ke-12 M, dipertahankan karena efektif menarik massa, meski yang ideal adalah belajar sirah Nabi secara rutin. Keduanya bisa saling melengkapi.
Tanya jawab Inkubasi bisnis syariah PINBAS DIY.
Diasuh oleh Tim PINBAS DIY. Materi utama seputar:
1Akidah.
1.1.Iman kepada Allah,
1.2.Malaikatnya,
1.3.kitab-kitabNya,
1.4.rasul-rasulNya,
1.5.hari akhir,
1.6.qaha dan qadar.
2Syariah. Ibadah dan mu’ammalah.
Ibadah ada (1)thaharah, (2)shalat, (3)zakat, (4)puasa, (5)haji & umroh.
(6)mu’ammalah ada luas, khusus (niaga), perdata (7)munakah/ hukum nikah, (8)qurban/ aqiqah, (9)waratsah/ hukum waris, dll). dan publik/ umum (10)jinayah, hukum pidana), (11)khilafah, hukum negara), (12)jihad (hukum perang dan damai), dll
(13)Akhlaq. Akhlaq kepada khaliq dan akhlaq kepada makhluq. Makhluq ada manusia dan bukan manusia. Manusia, ada akhlaq kepada diri sendiri, tetangga, masyarakat. Bukan manusia, flora, fauna, dan lainnya
