
Dr. H. Nur Ahmad Ghozali, M.A., Wakil Ketua PWM DIY, BPH RS PKU Kotagede Yogyakarta saat memberikan tausyiyah pengajian di masjid Joyopranan Mutihan Kotagede, pernah menyampikan tema tentang Naik kelas di bulan Ramadhan.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji hanya milik Allah SWT yang telah mempertemukan kita kembali dengan bulan yang penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka, yaitu bulan Ramadhan di tahun ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang setia mengikuti sunnah beliau hingga akhir zaman.
Jamaah rahimakumullah,
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menyampaikan satu kalimat yang sangat dalam maknanya:
“Ramadhan adalah madrasah ruhani untuk membersihkan jiwa dan menumbuhkan kasih sayang Ilahi.”
Maka Ramadhan sejatinya adalah sekolah ruhani, madrasah ruhani, dan sudah selayaknya kita naik kelas, tidak statis, tidak ajeg kualitasnya dari tahun ke tahun saat mengikuti kelas di bulan Ramadhan dengan berbagai amalan ibadah dan doa yang kita lakukan.
Klasifikasi Ramadhan Berdasarkan Kualitas Spiritual
Para ulama, khususnya Imam Al-Ghazali, mengklasifikasikan Ramadhan ke dalam tiga tingkatan.
1. Ramadhan Orang Awam
Puasa pada tingkat ini sebatas menahan lapar dan dahaga.
Fokusnya masih fisik, sementara lisan, mata, telinga, dan hati belum sepenuhnya terjaga.
Puasa tetap sah, namun belum optimal dalam membentuk jiwa.
2. Ramadhan Orang Khusus
Pada tingkatan ini, puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga:
- Menjaga anggota tubuh dari dosa
- Meningkatkan tilawah Al-Qur’an
- Menghidupkan shalat malam
- Memperbanyak sedekah
Di sinilah tantangan zaman muncul.
Media sosial dan media massa begitu gencar. Kita bisa menghabiskan waktu bermenit-menit bahkan berjam-jam dengan scroll-scroll, tetapi ketika membaca Al-Qur’an, lima menit terasa begitu lama, ngantuk, bosan dan alasan lainnya. Padahal medsos bukan pedoman hidup, sedangkan Al Qur’an pedoman hidup umat manusia.
Ini menjadi muhasabah bersama: apakah Ramadhan kita benar-benar naik kelas?
3. Ramadhan Khususul Khusus
Inilah tingkatan tertinggi menurut Imam Al-Ghazali.
Hati hanya terfokus kepada Allah, menjauhi selain-Nya. Puasa menjadi ibadah profetik, meneladani Nabi SAW dengan amal maksimal, lahir dan batin.
Inilah yang saya sampaikan dalam pengajian ba’da Subuh di Masjid Joyopranan Kotagede, bersama jamaah putra dan putri yang luar biasa semangatnya, yang diakhiri dengan sarapan bersama dan shalat syuruq.
Ramadhan Berdasarkan Dampak Perubahan
Para ulama sepakat bahwa Ramadhan bukan sekadar ibadah tahunan, tetapi proses bertahap menuju taqwa dan perubahan peradaban, bertahap, berdampak, dan berkelanjutan.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menegaskan:
“Puasa bukan sekadar menahan diri dari yang halal, tetapi mendidik jiwa agar menjauhi yang haram.”
Maka Ramadhan juga dapat dilihat dari dampaknya:
1. Ramadhan Ritual
Ibadah bersifat formalitas.
Prof. Quraish Shihab menyebutnya sebagai puasa yang tidak membuahkan taqwa. Hampa. Tidak merasa. Sebelumnya, saat puasa dan sesudahnya.
2. Ramadhan Moral
Puasa membentuk akhlak mulia: jujur, sabar, empati.
Terjadi perubahan perilaku sosial dan kepedulian terhadap sesama engan berbagi buka, dll.
3. Ramadhan Transformasional
Ramadhan melahirkan perubahan berkelanjutan pasca Ramadhan.
Menurut Fazlur Rahman, nilai ibadah harus berdampak sosial dan struktural, bukan berhenti pada individu semata. Sebab aneh jika kita hanya ingin masuk surga sendirian. Merasa paling benar sendirian. Merasa tidak punya salah dan dosa serta menilai hanya orang lain yang punya salah dan dosa.
Jamaah rahimakumullah,
Mari kita jadikan Ramadhan tahun ini sebagai momentum naik kelas, dari ritual menuju moral, dari moral menuju transformasi. Bukan hanya saleh secara pribadi, tetapi juga berdampak bagi keluarga, masyarakat, dan umat manusia semuanya di muka bumi ini.
Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita, mengangkat derajat kita, dan menjadikan kita insan bertaqwa yang terus menyala dan membahana kapan saja, dimana saja.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Transformasi Ramadhan (Dr. H. Nur Ahmad Ghozali, DMI DIY Biro Diklat)
Ramadhan berjalan tiap tahun, jika berpuasa sudah dimulai usia 10 tahun maka yang berusia 60 th sudah menunaikan Ramadhan selama 50 tahun, sudah sangat lama. Apakah dari tahun ke tahun ada perubahan yang lebih baik dari Ramadhan yang sudah dilalui?
Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga. Jika Ramadhan hanya berhenti pada ritual—puasa, tarawih, dan tadarus—tanpa perubahan sikap dan perilaku, maka akan jadi rutinitas semata. Demikian saya sampaikan pada jamaah subuh Masjid Mujahidin Muja Muju(7/2/2026) agar Ramadhan yang akan hadir lebih baik dari sebelumnya.
Di sinilah pentingnya transformasi Ramadhan: perubahan menyeluruh dari dalam diri menuju pribadi yang lebih bertakwa dan berdampak, diantaranya transformasi Spiritual.
Ramadhan mendidik kita untuk menguatkan hubungan dengan Allah (ḥablum minallāh). Puasa melatih kejujuran, muraqabah (merasa diawasi Allah), dan keikhlasan.
Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 183.
Takwa inilah target utama Ramadhan—kesadaran batin yang membimbing seluruh perilaku hidup kita, bahkan setelah Ramadhan berlalu.
Berikutnya transformasi Akhlak.
Puasa sejati melahirkan akhlak mulia. Ramadhan mengajarkan kesabaran, pengendalian emosi, dan kelembutan lisan. Rasulullah SAW bersabda:
“Jika seseorang di antara kalian berpuasa, maka jangan berkata kotor dan jangan bertengkar.”
(HR. Bukhari dan Muslim), apalagi di masa ini dengan media sosial yang terus berjalan jangan sampai mengurangi pahala puasa.
Maka indikator keberhasilan Ramadhan bukan hanya rajin ibadah, tetapi berkurangnya amarah, gosip, fitnah, dan kebencian, serta meningkatnya empati dan kasih sayang.
Selanjutnya transformasi Sosial
Ramadhan menumbuhkan kepekaan sosial. Rasa lapar mengajarkan kita memahami penderitaan kaum dhuafa. Zakat, infak, dan sedekah bukan sekadar kewajiban, tetapi sarana membangun keadilan sosial dan solidaritas kemanusiaan.
Puasa yang benar melahirkan pribadi yang tidak hanya saleh secara personal, tetapi juga saleh secara sosial.
Apa yang berubah setelah Ramadhan?
Jika setelah Ramadhan shalat lebih terjaga, lisan lebih santun, kerja lebih jujur, dan kepedulian sosial meningkat— rutinitas kebaikan bertambah, maka Ramadhan kita berhasil.
Namun jika tidak ada perubahan, jangan-jangan Ramadhan hanya lewat, tanpa makna.
Mari jadikan Ramadhan sebagai titik balik transformasi diri—dari biasa menjadi luar biasa, dari ritual menuju substansi, dari kesalehan personal menuju kesalehan sosial dan meningkat kelasnya dari ramadaniyyun menjadi rabbaniyyun.
Dr. H. Nur Ahmad Ghojali M.A.
Korbid Pendidikan dan pelatihan DMI DIY





Dibuka kelas baru. Untuk mendampingi diri kita agar Ramahan naik kelas.
Dibuka kelas baru. Untuk mendampingi usaha UMKM jamaah masjid kita agar jadi UMKM naik kelas.