
Rika Fatimah, Ph.D, Sejarah G2RT DIY: Dari Desa untuk Dunia dengan Empat Tetra Gotong Royong
Global Gotong Royong (G2R) Tetrapreneur: Inovasi Gotong Royong Desa Menuju Dunia
YOGYA, pinbasmui.com – Gotong royong telah mengakar kuat sebagai kekayaan intelektual bangsa Indonesia. Nilai ini bukan hanya menjadi ciri khas budaya, tetapi juga potensi berkelanjutan yang bernilai tinggi dan identik dengan kemandirian bangsa. Berangkat dari kesadaran tersebut, lahirlah Program Global Gotong Royong (G2R) Tetrapreneur sebagai inovasi solidaritas gerakan gotong royong dan kewirausahaan desa, dengan tujuan membawa kearifan lokal Indonesia ke kancah global.
Latar Belakang dan Sasaran Program
Sasaran utama G2R Tetrapreneur adalah wilayah pedesaan, yang selama ini memiliki keunggulan bersaing yang terintegrasi melalui kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pemerintah desa, lembaga-lembaga desa, serta masyarakat luas. Desa diposisikan bukan sebagai objek pembangunan, melainkan sebagai subjek utama penggerak ekonomi berbasis gotong royong.
Inisiasi dan Dukungan Pemerintah Daerah
G2R Tetrapreneur diinisiasi oleh Rika Fatimah P.L., S.T., M.Sc., Ph.D, dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), melalui diskusi panjang bersama tim Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (BAPPEDA DIY). Gagasan ini kemudian secara serius diusung dan didukung oleh Pemerintah Daerah DIY sebagai bagian dari inovasi pembangunan daerah.
“Gotong royong sebetulnya merupakan kearifan lokal, bahkan kecerdasan nenek moyang kita,” ungkap Rika Fatimah, konseptor G2R.
Melalui program G2R Tetrapreneur, Rika berupaya mengangkat gotong royong sebagai aset strategis bangsa, tidak hanya dalam ranah sosial dan budaya, tetapi juga dalam bidang ekonomi.
Inspirasi Global dan Penguatan Nilai Lokal
Rika Fatimah juga terinspirasi oleh model pemberdayaan Saemaul Undong dari Korea Selatan yang telah mendunia. Keberhasilan Korea Selatan keluar dari status negara miskin pada era 1970-an hingga menjadi negara maju dipandang sebagai bukti bahwa semangat kolektif dan gotong royong mampu mendorong transformasi ekonomi nasional.
“Kita bisa belajar dari sesama rumpun Asia bahwa gotong royong bukan hanya soal budaya atau sosial, melainkan aset pembangunan,” jelasnya.
Atas dasar itu, ditambahkanlah kata “Global” di depan Gotong Royong, sehingga menjadi Global Gotong Royong (G2R), sebagai penegasan orientasi internasional program ini.
Model Tetrapreneur: Empat Pilar Wirausaha Desa
Selain gotong royong, potensi unggul lain bangsa Indonesia adalah jiwa kewirausahaan. G2R Tetrapreneur menguatkan potensi tersebut melalui Model Tetrapreneur, yaitu gerakan inovasi desa wirausaha berbasis empat pilar:
- Tetra 1 – Rantai Pasok Bisnis
Penguatan usaha dari hulu ke hilir, mulai dari produksi hingga distribusi. - Tetra 2 – Pasar dan Pertukaran Nilai
Ketersediaan serta kesigapan dalam merespons pasar sebagai ruang pertukaran nilai produk. - Tetra 3 – Kualitas dan Kapasitas SDM
Peningkatan kualitas produk melalui SDM unggul, sistem yang terkoordinasi, dan pengembangan kapasitas berkelanjutan. - Tetra 4 – Nilai Merek (Brand Value)
Penguatan identitas dan nilai merek produk desa agar memiliki daya saing global.
Integrasi nilai gotong royong dengan Model Tetrapreneur diharapkan mampu mengangkat kemandirian, martabat, dan kewibawaan produk desa menjadi ikon-ikon global Indonesia.
Implementasi dan Capaian Program
Pada tahun 2018, G2R Tetrapreneur mulai diimplementasikan di Desa Wukirsari dan Desa Girirejo sebagai pilot village (Desa Pelopor). Pada tahap ini, program berhasil menyelesaikan Tetra 1, dengan output berupa produk unggulan khas masing-masing desa.
Selanjutnya, pada tahun 2019, kedua desa binaan memasuki Tetra 2, yakni penciptaan pasar non-kompetisi. Pada tahun yang sama, pengembangan G2R Tetrapreneur—yang juga diusung oleh Dinas Koperasi dan UKM DIY—lebih menekankan aspek kebudayaan sebagai akar kewirausahaan.
Hingga tahun 2021, sebanyak 21 desa berada dalam naungan program G2R Tetrapreneur melalui dukungan Dana Keistimewaan DIY (Danais DIY). Berbeda dari pemanfaatan Danais yang umumnya berfokus pada budaya dan pelestarian heritage, G2R Tetrapreneur hadir sebagai inovasi budaya dalam aspek ekonomi, yakni ekonomi berbasis gotong royong. Selain itu, terdapat sekitar 10 desa lain yang bergabung dalam skema G2R Tetrapreneur Mandiri di berbagai wilayah Indonesia.
Produk Unggulan dan Jejak Global
Produk-produk desa binaan G2R Tetrapreneur antara lain:
- Manisan olahan pepaya (Kalurahan Donoharjo),
- Olahan okra (Kalurahan Sabdodadi),
- Bakso goreng kemasan (Kalurahan Bejiharjo),
- Dodol salak (Kalurahan Bangunkerto), dan berbagai produk unggulan lainnya.
Sebagai wujud visi menciptakan produk ikonik global Indonesia, G2R Tetrapreneur mencatat tonggak penting dengan mengirimkan tes produk unggulan desa binaan ke Mesir dan Turki. Langkah ini menandai transformasi G2R Tetrapreneur dari gerakan lokal menjadi inisiator produk desa berorientasi global. (**)




