
Bu Diyah Batik Kg, Pak Juma PINBAS dan Bu Sulis Jamu Yk
di Ngaji UMKM (Usaha Meraih Kemuliaan Mandiri) dilaksanakan rutin
Ngaji UMKM kali ini berbicara tentang Inti Ajaran Islam. Katanya Inti ajaran Islam itu sederhana tapi mendalam yaitu menyembah Allah semata dan menghadirkan kebaikan bagi sesama.
Kalau diringkas, ada tiga poros utama atau tiga inti dari ajaran Islam yaitu: Tauhid, Ibadah, dan Akhlaq.
1. Tauhid – mengesakan Allah
Ini fondasinya.
- Allah satu-satunya yang disembah
- Tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun
- Seluruh hidup diarahkan untuk mencari ridha-Nya
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Tauhid membuat hidup jelas arah, tenang tujuan, dan kuat prinsip.
2. Ibadah – hubungan dengan Allah
Bukan hanya shalat, puasa, zakat, haji, tapi semua aktivitas yang diniatkan karena Allah.
- Shalat → menata hati
- Puasa → melatih pengendalian diri
- Zakat → membersihkan harta dan jiwa
- Haji → totalitas kepasrahan
Ibadah itu menghidupkan batin, bukan sekadar menggugurkan kewajiban.
3. Akhlak – kebaikan kepada manusia dan alam
Inilah buah dari tauhid dan ibadah.
- Jujur, amanah, adil
- Peduli fakir miskin
- Tidak menzalimi
- Menjaga lingkungan
- Menebar rahmat, bukan kebencian
Rasulullah ﷺ menegaskan:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Jika dirumuskan sangat singkat:
- Akidahnya lurus
- Ibadahnya benar
- Akhlaknya mulia
Atau dalam bahasa yang membumi:
Hidup bertuhan dengan benar, hidup bermasyarakat dengan baik.

UMKM (Usaha Meraih Kemuliaan Mandiri) itu intinya: 1menjadi hamba Allah yang bermartabat, 2tidak bergantung pada makhluk, dan 3bermanfaat kepada sesama.
Dalam Islam, kemuliaan (izzah) bukan hadiah, tapi hasil ikhtiar yang lurus dan konsisten, terus menerus dijalani sejak dini, sejak anak, sejak remaja, sejak sadar diri, sejak tahu diri, tahu batas, tahu pantas. Berikut kerangka praktis dan bisa dijalankan:
1. Luruskan niat: kemuliaan karena Allah
Mulainya bukan uang atau jabatan, tapi niat.
- Mandiri agar tidak mengemis
- Berusaha agar tidak menjadi beban
- Sukses agar bisa berbagi
“Barang siapa menghendaki kemuliaan, maka kemuliaan itu milik Allah seluruhnya.” (QS. Fathir: 10)
➡️ Checklist niat:
“Usahaku halal – caraku bermartabat – hasilnya membawa maslahat.”
2. Bangun kemandirian ekonomi (kerja & usaha halal)
Kemuliaan sulit diraih jika hidup selalu tergantung.
- Bekerja meski sederhana
- Berwirausaha sesuai kemampuan
- Tidak malu memulai dari kecil
- Menolak cara haram meski cepat
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”
➡️ Prinsip emas: lebih mulia penghasilan kecil tapi halal daripada besar tapi melanggar.
3. Disiplin ibadah sebagai sumber kekuatan
Ibadah itu bahan bakar mental dan moral.
- Shalat tepat waktu
- Doa sebelum & sesudah usaha
- Sedekah rutin walau kecil
- Puasa sunnah (jika mampu)
Orang yang kuat spiritualnya:
- Tidak mudah putus asa
- Tidak tergoda curang
- Teguh saat diuji
4. Rawat akhlak & integritas
Kemuliaan itu terlihat dari sikap, bukan slogan.
- Jujur dalam transaksi
- Amanah pada janji
- Adil dalam tim
- Santun saat untung maupun rugi
➡️ Rezeki bisa naik-turun, harga diri jangan sampai turun.
5. Terus belajar & meningkatkan kapasitas
Mandiri tanpa ilmu = rapuh.
- Belajar keterampilan baru
- Mau dibimbing dan dibina
- Tidak gengsi belajar dari siapa pun
Dalam konteks UMKM:
- Pahami pasar
- Tingkatkan kualitas produk
- Perbaiki kemasan & layanan
6. Bangun jejaring, bukan ketergantungan
Mandiri bukan berarti sendirian.
- Berkolaborasi, kerjasama, tolong menolong
- Bergabung komunitas produktif, saling berbagi
- Saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan
➡️ Mandiri itu punya daya tawar, bukan hidup terisolasi.
7. Jadikan diri bermanfaat
Puncak kemuliaan adalah memberi dampak.
- Membuka lapangan kerja
- Membantu sesama bangkit
- Menguatkan masjid & umat
- Menjadi teladan di lingkungan
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”
Ringkasan:
Kemuliaan mandiri diraih dengan iman yang lurus, usaha halal, akhlak mulia, dan manfaat nyata.
